Kamis, 25 Juni 2015

tol cipali  (foto : web)
tol cipali (foto : web)

Tol Cipali Beroperasi, Arus Mudik Jalur Selatan Dipastikan Turun

BANDUNG, FOKUSJabar.com : Kapolres Bandung AKBP Erwin Kurniawan mengatakan beroperasinya Tol Cipali optimis berpengaruh pada turunnya volume kendaraan yang masuk jelang mudik Lebaran 1436 Hijriah di jalur selatan.
“Mungkin akan membantu, tetapi kita tetap waspada karena jumlah motor akan bertambah, bayangkan saja ada tol tambahan volume kendaraan juga ikut naik,” ujar Erwin di Bandung, Kamis (25/6/2015).
Penalaian tersebut, menurut Erwin akan terukur saat arus mudik terjadi. Karena, jalur selatan khususnya Cileunyi Nagreg jadi jalur pilihan para pemudik baik dalam dan luar Bandung.
“Tapi kita lihat nanti perbandingannya, penjagaan tetap dioptimalkan. Belum lagi jalur selatan ini jadi favorit kendaraan kecil karena kondisi struktur jalannya penggunungan,” papar Erwin.
Selain itu, kendaraan bermotor roda dua jelang arus mudik mendatang tetap jadi perhatian, alangkah lebih baik kepada masyarakat agar mudik ke kampung halaman tidak menggunakan roda dua melainkan dengan transportasi kolektif.
“Untuk sepeda motor, jalur khusus tidak ada, tapi untuk kanalisasi kita lihat kemungkinannya. Memang roda dua ini dari analisa 2 tahun terakhir mencapai 66 persen,” tukasnya.
(Adi/Den
 
Pemkot Cirebon – Pertamina Buat Kesepakatan Tertulis
CIREBON, FOKUSJABAR.COM: Pemkot Cirebon akan membuat kesepakatan tertulis dengan PT Pertamina Cirebon terkait pembenahan infrastruktur untuk menyelenggarakan PON XIX tahun 2016 di kawasan sarana olahraga Bima Cirebon.
Sekda Kota Cirebon Asep Dedi (Foto : Panji)
Sekda Kota Cirebon Asep Dedi (Foto : Panji)
Hal tersebut disampaikan Sekda Kota Cirebon Asep Dedi kepada FokusJabar.com di ruang kerjanya. Asep mengatakan, pihak pertamina dengan pemkot secara lisan sudah sepakat untuk dilakukan perbaikan.
“Kalau lisan sih sudah ada kesepakatan. Tinggal tertulisnya saja,” kata Asep Dedi, Kamis (25/6/2015).
Disebutkan, dalam pengerjaan tersebut perbaikan infrastruktur di kawasan Bima dan kolam renang Bima untuk penyelenggaraan olahraga polo air dan kolam selam.
Untuk pegerjaan infrastruktur dan sarana prasarana di Bima sebesar Rp8,5 miliar, untuk pengerjaan kolam renang Bima sebesar Rp3 miliar dan Rp1,5 miliar penyediaan sarana penunjang infrastruktur serta kawasan olahraga.
Disebutkan, dalam proses pengerjaannya proyek kolam renang dinas PU Kota Cirebon tengah melaksanakan proses lelang.  “Masih proses lelang tinggal dilihat siapa pemenangnya saja nanti ya,” sebutnya.
(Panji/DEN)
Moh Ismet Natsir, Sekretaris LSM Bumi garut (Foto : Bambang Fouristian)
Moh Ismet Natsir, Sekretaris LSM Bumi garut (Foto : Bambang Fouristian)

LSM Bumi Tuding Bupati Garut Langgar Moratorium

GARUT, FOKUSJabar.com: Bupati Garut, Rudy Gunawan menyatakan, kawasan wisata Darajat Pass yang berlokasi di Kecamatan Pasirwangi merupakan daerah berstatus moratorium. Artinya, semua bentuk kegiatan pembangunan mesti dihentikan.
Sejauh ini berdasarkan pantauan FOKUSJabar, pernyataan Bupati Rudy Gunawan tersebut kurang mendapat respon positif dari sejumlah kalangan masyarakat Kota Intan.
Mereka berharap bukan sebuah steatmen yang terlontar, tetapi aplikasi di lapangan langsung dilakukan dengan menghentikan semua jenis pembangunan di kawasan Darajat Pass.
Hal tersebut dibenarkan Sekretaris LSM Bumi Kabupaten Garut, Moh Ismet Natsir. Menurut dia, Bupati Garut setengah hati dalam memberikan tindakan atau sanksi kepada pengusaha Puncak Jaya Darajat. Bahkan, terkesan membiarkan pengusaha melaksanakan pembangunan untuk objek wisata baru.
Karenanya, LSM Bumi menuding Bupati Rudy telah menghianati moratorium tersebut yang berpura-pura tidak mengetahui adanya kegiatan pembangunan kawasan wisata baru.
Dan jika pengusaha tersebut mengantongi Izin Mendirikan Bangunan (IMB) berarti Pemerintah Kabupaten (Pemkab) jelas-jelas memberikan dukungan pada pengusaha.
“ Sebelum status moratoriumnya dicabut, di kawasan Darajat Pass tidak diperbolehkan membangun kawasan wisata baru. Pihak Pemkab jangan berani mengeluarkan IMB karena bertentangan dengan UU No28 Tahun 2006 tentang Gedung dan Bangunan serta korelasinya bertentangan pula dengan UU No32 tahun 2009 tentang Analisa Dampak Lingkungan (Amdal),” papar Ismet.
Menurut dia, setiap pengajuan surat IMB mesti mendapatkan surat dukungan dari masyarakat setempat.
“ Jujur, kami sudah hampir dua tahun mempermasalahkan kawasan Darajat Pass. Karena selain tengah dimoratorium Pemkab juga kawasan tersebut merupakan daerah konservasi Pemerintah Provinsi dan dalam pengawasan BKSDA,” pungkas Ismet.
(Bambang Fouristian/DEN)
Cabor
Ilustrasi

PON XIX/2016: Pemkot Cirebon Siapkan GOR Bima Sebagai Venue

CIREBON, FOKUSJabar.com:PO
Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Cirebon Asep Dedi mengaku telah menyiapkan GOR Bima sebagai venue pertandingan dua Cabor tesebut. Menurutnya, menggunakan GOR Bima tidak terlalu memerlukan anggaran banyak, atau hanya tinggal perawatan.
“Kami mendapat informasi dan kemungkinan akan ditambah dua Cabor di sini,” kata Asep, Kamis (25/6/2015).
Sebelumnya, Ketua Bidang Sarana dan Prasarana PB PON XIX/2016 Jabar Bambang Riyano mengatakan bahwa telah menyiapkan sejumlah venue cadangan di sejumlah kabupaten/kota. Hal itu dilakukan sebagai antisipasi jika ada keterlambatan pembangunan.
Sepertihalnya GOR Bima untuk dua cabor di atas. Selain GOR Bima, venue cadangan pun terdapat di Kabupaten Indramayu, yakni untuk pertandingan bola voli indoor, begitupun di Kabupaten Subang, Kabupaten Bandung.
“Masih banyak alternatif,” kata Bambang.
Dia optimistis pengerjaan venue PON akan selesai tepat waktu, terlebih sejumlah kabupaten/kota yang ditunjuk menjadi tuan rumah pertandingan pun terus mengerjakan pembangunan venue.
(Panji/LIN)
Suasana Razia di Jl. Ahmad Yani Bandung (Foto : Budi)
Suasana Razia di Jl. Ahmad Yani Bandung (Foto : Budi)

Dishub Kota Bandung Razia Kendaraan Angkutan

BANDUNG, FOKUSJabar.com: Dinas Perhubungan Kota Bandung beserta jajaran Kepolisian dari Polrestabes Bandung melakukan razia kendaraan angkutan. Dalam razia tersebut Dishub memeriksaan dokumen perizinan angkutan umum dan pemeriksaan pemenuhan persyaratan teknis, di Jalan Ahmad Yani Kota Bandung, Kamis (25/6/2015).
Dishub razia perizinan angkutan kendaraan (Foto : Budi)
Dishub razia perizinan angkutan kendaraan (Foto : Budi)
Pantauan di lapangan sejumlah kendaraan angkutan Kota dan kendaraan pengangkut barang diberhentikan.
“Ini operasi rutin, karena kalau prosedur angkutan umum dan barang tidak ditertibkan, PAD Kota Bandung menurun. Mereka banyak yang tidak bayar,” ucap Kepala Bidang Operasi Dishub Kota Bandung IW Ginting kepada wartawan dilokasi pemeriksaan.
(Budi/DEN
Ilustrasi
Ilustrasi

Tahun 2014 Silpa Jabar Capai 4 Trilyun

BANDUNG, FOKUSJabar.com: Plt Sekretaris Daerah (Sekda) Iwa Karniwa menyebut  jumlah Sisa Lebih Penghitungan Anggaran (Silpa) Pemprov Jabar tahun 2014 lalu mencapai Rp4,54 trilyun.  Silpa itu sebagian besar berasal dari kelebihan target pendapatan daerah, baik  dari pajak daerah, retribusi daerah, dan juga PAD lainnya yang sah.
Dia mengatakan, jumlah Silpa itu berasal dari peninglatan pendapatan dan dana perimbangan. Dana perimbangan ini berasal dari dana bagi hasil pajak dan bukan pajak termasuk sisa anggaran proyek atau anggaran belanja yang dilakukan efisiensi.
“Termasuk juga beberapa anggaran yang disediakan tapi tak terserap seperti subsidi, untuk pengamanan operasi pasar, untuk raskin.  Alhamdulillah diserapnya hanya sebagian,” kata Iwa di Bandung, Kamis (25/6/2015).
Kendati begitu, pihaknya mengaku belum mengetahui pasti anggaran apa saja yang menjadi Silpa. Namun sebagian besar berasal dari pencapaian over target dan sisa tender yang telah dianggarkan.
“Saya pikir lebih rincinya bisa ke Kabiro Keuangan tentang Silpa itu. Tapi kalau tadi kita lihat, anggaran 100 persen realisasinya 86 persen,” tukasnya.
(LIN)

Rabu, 24 Juni 2015

mak yayah

HJ NINA DAN ALUMNI ITB AKAN RENOVASI 

GUBUK MAK YAYAH YANG TIDAK LAYAK HUNI

GARUT, FOKUSJabar.com: Hj. Nina Herlina Lubis, warga asal Kecamatan Cikajang Kabupaten Garut yang juga guru besar Sejarah di Unpad Bandung akan membangun Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu) bagi kaum dhuafa dan jompo di Garut. Yakni rumah milik mak Yayah (80), seorang janda tua yang hidup sebatang kara.
Hj Nina Herlina di gubuk Mak yayah (Foto : Bambang F)
Hj Nina Herlina di gubuk Mak yayah (Foto : Bambang F)
Rabu (24/6/2015), Hj. Nina bertolak ke Kampung Tabrik Desa Linggamukti Kecamatan Sucinaraja-Garut untuk meninjau langsung gubuk berukuran 4 x 5 m yang menjadi tempat tinggal mak Yayah (80).
“Informasi saya peroleh dari media online FOKUSJabar dan kang H. Usep Romli, salah seorang wartawan senior di Garut,” kata Hj. Nina usai meninjau lokasi rumah mak Yayah di Kampung Tabrik, Rabu (24/6/2015).
Dia mengaku sangat prihatin setelah melihat langsung kondisi rumah mak Yayah yang benar-benar tidak layak huni. Betapa tidak, selain tidak terdapat kamar tidur juga kamar mandi, disana hanya terdapat sebuah dapur yang dipenuhi dengan kayu bakar.
Guru besar di Unpad tersebut memberikan bantuan berupa, beras, minyak goreng, mie instan dan makanan ringan lainnya. Dia pun meminta Ketua RT setempat mencarikan tukang bangunan untuk mengukur sekaligus membuatkan site plan bangunan berukuran 4 x 5 meter.
“Saya minta Pjs Kepala Desa Linggamukti, mulai besok membangun tempat tinggal janda tua tersebut. Sebelum lebaran nanti, rumah mak Yayah harus sudah rampung dibangun,” tegas Hj. Nina.
Menurut guru besar Unpad yang kerap melakukan penelitan kepurbakalaan yang satu ini, biaya pembangunan Rutilahu tersebut bersumber dari dana rereongan (patungan) para alumni ITB Bandung.
“Program alumni ITB Bandung ini sudah berjalan selama tiga tahun. Pelaksanaannya dilakukan di bulan suci Ramadhan,” jelas Hj. Nina.
Pertama kali, program ini membantu membangun satu Rutilahu di Kecamatan Cibiuk pada tahun 2013 lalu. Tahun berikutnya (2014), membangun sebanyak dua Rutilahu dan dua Madrasah di Kecamatan Malangbong. Dan pada tahun ini, akan membangun rumah milik mak Yayah di Kecamatan Sucinaraja.
Tak hanya itu, dia bersama alumni ITB pun tengah membangun rumah Mahasiswa Dhuafa di daerah Jatinangor. Tujuannya, untuk menampung para mahasiswa yang tidak punya kost-kostan atau tidur menggunakan mesjid.
“Dengan cara itu, mereka bisa nyaman dan konsentrasi menimba ilmu,” pungkas Hj. Nina Herlina Lubis.
(Bambang Fouristian/ang)